Jumat, 22 April 2011

Hubungan multi Budaya dengan Bahasa Indonesia


PENDAHULUAN


Bangsa Indonesia terdiri dari beragam suku dan ras, yang mempunyai budaya, bahasa, nilai, dan agama atau keyakinan berbeda-beda. Bila bangsa ini ingin menjadi kuat dalam era demokrasi, diperlukan sikap saling menerima dan menghargai dari tiap orang yang beraneka ragam itu sehingga dapat saling membantu, bekerja sama membangun negara ini lebih baik. Perkembangan pembangunan nasional dalam era industrialisasi di Indonesia telah memunculkan side effect yang tidak dapat terhindarkan dalam masyarakat. Konglomerasi dan kapitalisasi dalam kenyataannya telah menumbuhkan bibit-bibit masalah yang ada dalam masyarakat seperti ketimpangan antara yang kaya dan yang miskin, masalah pemilik modal dan pekerja, kemiskinan, perebutan sumber daya alam dan sebagainya. Di tambah lagi kondisi masyarakat Indonesia yang plural baik dari suku, agama, ras dan geografis memberikan kontribusi terhadap masalah-masalah sosial seperti ketimpangan sosial, konflik antar golongan, antar suku dan sebagainya.
Kondisi masyarakat Indonesia yang sangat plural baik dari aspek suku, ras, agama serta status sosial memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap perkembangan dan dinamika dalam masyarakat. Kondisi yang demikian memungkinkan terjadinya benturan antar budaya, antar ras, etnik, agama dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Kasus Ambon, Sampit, konflik antara FPI dan kelompok Achmadiyah, dan sebagainya telah menyadarkan kepada kita bahwa kalau hal ini terus dibiarkan maka sangat memungkinkan untuk terciptanya disintegrasi bangsa, Untuk itu dipandang sangat penting memberikan pendidikan multikultural sebagai wacana baru dalam sistem pendidikan di Indonesia terutama agar peserta didik memiliki kepekaan dalam menghadapi gejala-gejala dan masalah-masalah sosial yang berakar pada perbedaan kerena suku, ras, agama dan tata nilai yang terjadi pada lingkungan masyarakatnya. Hal ini dapat diimplementasi baik pada substansi maupun model pembelajaran yang mengakui dan menghormati keanekaragaman budaya.

TEORI – TEORI TENTANG PENDIDIKAN MULTI BUDAYA

Banks (1993) telah mendiskripsikan evolusi pendidikan multibudaya dalam empat fase. Yang pertama, ada upaya untuk mempersatukan kajian-kajian etnis pada setiap kurikulum. Kedua, hal ini diikuti oleh pendidikan multietnis sebagai usaha untuk menerapkan persamaan pendidikan melalui reformasi keseluruhan sistem pendidikan. Yang ketiga, kelompok-kelompok marginal yang lain, seperti perempuan, orang cacat, homo dan lesbian, mulai menuntut perubahan-perubahan mendasar dalam lembaga pendidikan. Fase keempat perkembangan teori, riset dan praktek, perhatian pada hubungan antar-ras, kelamin, dan kelas telah menghasilkan tujuan bersama bagi kebanyakan ahli teoritisi, jika bukan para praktisi, dari pendidikan multibudaya
Nieto (1992) menyebutkan bahwa pendidikan multibudaya bertujuan untuk sebuah pendidikan yang bersifat anti rasis; yang memperhatikan ketrampilan-ketrampilan dan pengetahuan dasar bagi warga dunia; yang penting bagi semua murid; yang menembus seluruh aspek sistem pendidikan; mengembangkan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang memungkinkan murid bekerja bagi keadilan sosial; yang merupakan proses dimana pengajar dan murid bersama-sama mempelajari pentingnya variabel budaya bagi keberhasilan akademik; dan lain lain.


Bill Martin Dalam tulisannya yang berjudul Multiculturalism: Consumerist or Transformational?, Bill Martin menulis, bahwa keseluruhan isu tentang multikulturalisme memunculkan pertanyaan tentang "perbedaan" yang nampak sudah dilakukan berbagai teori filsafat atau teori sosial. Sebagai agenda sosial dan politik, jika multikulturalisme lebih dari sekedar tempat bernaung berbagai kelompok yang berbeda, maka harus benar-benar menjadi 'pertemuan' dari berbagai kelompok itu yang tujuannya untuk membawa pengaruh radikal bagi semua umat manusia lewat pembuatan perbedaan yang radikal (Martin, 1998: 128).

PRAKTEK PELAKSANAAN PENDIDIKAN MULTI BUDAYA
Agar pendidikan lebih multikultural, maka kurikulum, model pembelajaran, suasana sekolah, menyeragamkan dan menghilangkan perbedaan yang ada , dan peran guru harus dibuat multicultural serta peran keluarga yang sangat penting untuk pelaksanaan muti budaya. Isi, pendekatan, dan evaluasi kurikulum harus menghargai perbedaan dan tidak diskriminatif. Isi dan bahan ajar di sekolah perlu dipilih yang sungguh menekankan pengenalan dan penghargaan terhadap budaya dan nilai lain.Pertama Misalnya, dalam semua bidang pelajaran, dimasukkan nilai dan tokoh-tokoh dari budaya lain agar siswa mengerti bahwa dalam tiap budaya, ilmu itu dikembangkan. Contoh-contoh ilmuwan dan hasil teknologi, perlu diambil dari berbagai budaya dan latar belakang termasuk jender. Kesamaan dan perbedaan antarbudaya perlu dijelaskan dan dimengerti. Siswa dibantu untuk kian mengerti nilai budaya lain, menerima dan menghargainya. Misalnya, dalam mengajarkan makanan, pakaian, cara hidup, bukan hanya dijelaskan dari budayanya sendiri, tetapi juga yang lain.

**Kedua Model pembelajaran dalam klas pun perlu diwarnai multikultural, yaitu dengan menggunakan berbagai pendekatan berbeda-beda. Penyajian bahan, termasuk matematika, dalam memberi contoh, guru perlu memilih yang beraneka nilai. Buku-buku yang ditulis dalam pelajaran pun perlu disusun untuk menghargai budaya lain dan penghargaan jender.
**Ketiga Suasana sekolah amat penting dalam penanaman nilai multibudaya. Sekolah harus dibangun dengan suasana yang menunjang penghargaan budaya lain. Relasi guru, karyawan, siswa yang berbeda budaya diatur dengan baik, ada saling penghargaan. Anak dari kelompok lain tidak ditolak tetapi dihargai.

**Keempat dengan menyeragamkan dan menghilangkan perbedaan yang ada, baik dari segi budaya, agama, nilai, dan lain-lain. Sikap saling menerima, menghargai nilai, budaya, keyakinan yang berbeda tidak otomatis akan berkembang sendiri. Apalagi karena dalam diri seseorang ada kecenderungan untuk mengharapkan orang lain menjadi seperti dirinya.

**Kelima Dengan sikap saling menerima dan menghargai akan cepat berkembang bila dilatihkan dan dididikkan pada generasi muda dalam sistem pendidikan nasional. Dengan pendidikan, sikap penghargaan terhadap perbedaan yang direncana baik, generasi muda dilatih dan disadarkan akan pentingnya penghargaan pada orang lain dan budaya lain bahkan melatihnya dalam hidup sehingga sewaktu mereka dewasa sudah mempunya sikap itu. Di sini pemerintah dan tiap sekolah perlu memikirkan model dan bentuk yang sesuai.

**Keenam lewat penanaman semangat multikulturalisme di sekolah-sekolah, akan menjadi medium pelatihan dan penyadaran bagi generasi muda untuk menerima perbedaan budaya, agama, ras, etnis dan kebutuhan di antara sesama dan mau hidup bersama secara damai. Agar proses ini berjalan sesuai harapan, maka seyogyanya kita mau menerima jika pendidikan multikultural disosialisasikan dan didiseminasikan melalui lembaga pendidikan, serta, jika mungkin, ditetapkan sebagai bagian dari kurikulum pendidikan di berbagai jenjang baik di lembaga pendidikan pemerintah maupun swasta. Apalagi, paradigma multikultural secara implisit juga menjadi salah satu concern dari Pasal 4 UU N0. 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional. Dalam pasal itu dijelaskan, bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis, tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi HAM, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa.

PERAN GURU DAN KELUARGA DALAM PELAKSANAAN MULTI BUDAYA

Peran guru dalam pendidikan multikultur juga amat penting. Guru harus mengatur dan mengorganisir isi, proses, situasi, dan kegiatan sekolah secara multikultur, di mana tiap siswa dari berbagai suku, jender, ras, berkesempatan untuk mengembangkan dirinya dan saling menghargai perbedaan itu.
Guru perlu menekankan diversity dalam pembelajaran, antara lain dengan
1) mendiskusikan sumbangan aneka budaya dan orang dari suku lain dalam hidup bersama sebagai bangsa; dan 2) mendiskusikan bahwa semua orang dari budaya apa pun ternyata juga menggunakan hasil kerja orang lain dari budaya lain. Dalam pengelompokan siswa di kelas mapun dalam kegiatan di luar kelas guru diharapkan memang melakukan keanekaan itu. Usaha untuk mengembangkan sikap penghargaan ini masih panjang, terlebih karena kadang ada kecurigaan terhadap budaya lain. Semoga kita makin mengusahakannya, meski banyak tantangan. Semoga bangsa ini kian kuat bekerja sama, bukan saling menghancurkan.
Didalam peran keluarga adalah peran yang sangat penting bagi pendidikan multi budaya karena Peran orangtua dalam menanamkan nilai-nilai yang lebih responsive multikultural dengan mengedepankan penghormatan dan pengakuan terhadap perbedaan yang ada di sekitar lingkungannya (agama, ras, golongan) terhadap anak atau anggota keluarga yang lain. Serta didalam keluarga, orang tua juga menanamkan dan memberi contoh perilaku agar kita bisa mencintai, menjaga ,memahami dan melestarikan rasa kebudayaan, ras, agama, bahasa yang beraneka ragam yang kita miliki.

PENTINGNYA PENDIDIKAN MULTI BUDAYA

Pada konteks ini dapat dikatakan, tujuan utama dari pendidikan multikultural adalah untuk menanamkan sikap simpati, respek, apresiasi, dan empati terhadap penganut agama dan budaya yang berbeda. Lebih jauh lagi, penganut agama dan budaya yang berbeda dapat belajar untuk melawan atau setidaknya tidak setuju dengan ketidak-toleranan (l’intorelable) seperti inkuisisi (pengadilan negara atas sah-tidaknya teologi atau ideologi), perang agama, diskriminasi, dan hegemoni budaya di tengah kultur monolitik dan uniformitas global.
Pendidikan multikulturalisme/multibudaya sangat bermanfaat untuk membangun kohesifitas, soliditas dan intimitas di antara keragamannya etnik, ras, agama, budaya dan kebutuhan di antara kita, dan juga memberi dorongan dan spirit bagi lembaga pendidikan nasional untuk mau menanamkan sikap kepada peserta didik untuk menghargai orang, budaya, agama, dan keyakinan lain. Harapannya, dengan implementasi pendidikan multikultural membantu siswa mengerti, menerima, dan menghargai orang dari suku, budaya, dan nilai berbeda. Untuk itu, anak didik perlu diajak melihat nilai budaya lain, sehingga mengerti secara dalam, dan akhirnya dapat menghargainya. Bukan dengan menyembunyikan budaya lain, atau menyeragamkan sebagai budaya nasional, sehingga budaya lokal hilang.


KESIMPULAN

Jadi dapat disimpulkan Pendidikan Multi Budaya dipandang sangat penting memberikan pendidikan multikultural sebagai wacana baru dalam sistem pendidikan di Indonesia terutama agar peserta didik memiliki kepekaan dalam menghadapi gejala-gejala dan masalah-masalah sosial yang berakar pada perbedaan kerena suku, ras, agama dan tata nilai yang terjadi pada lingkungan masyarakatnya. Hal ini dapat diimplementasi baik pada substansi maupun model pembelajaran yang mengakui dan menghormati keanekaragaman budaya. Dengan implementasi pendidikan multikultural membantu siswa mengerti, menerima, dan menghargai orang dari suku, budaya, dan nilai berbeda. Untuk itu, anak didik perlu diajak melihat nilai budaya lain, sehingga mengerti secara dalam, dan akhirnya dapat menghargainya. Bukan dengan menyembunyikan budaya lain, atau menyeragamkan sebagai budaya nasional, sehingga budaya lokal hilang.
Menurut saya sangat penting memberikan pendidikan multikultural di dalam sistem pendidikan di Indonesia terutama agar peserta didik memiliki kepekaan dalam menghadapi gejala-gejala dan masalah-masalah sosial yang berakar pada perbedaan kerena suku, ras, agama dan tata nilai yang terjadi pada lingkungan masyarakatnya. Serta peserta didik siswa mengerti, menerima, dan menghargai orang dari suku, budaya, dan nilai berbeda. Agar pendidikan lebih multikultural, maka kurikulum, model pembelajaran, suasana sekolah, menyeragamkan dan menghilangkan perbedaan yang ada , dan peran guru harus dibuat multicultural serta peran keluarga yang sangat penting untuk pelaksanaan muti budaya.

Minggu, 17 April 2011

MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA



Berbagai upaya dilakukan guru agar siswa mau belajar efektif. Beberapa teori, pendekatan, metode sampai kepada media pembelajaran digunakannya demi keberhasilan para siswanya.



TEORI Gestalt menyebutkan, yang dimaksud belajar adalah perubahan perilaku yang terjadi melalui pengalaman. Teori ini bukan menyuruh siswa untuk menghafal, tetapi belajar memecahkan masalah merumuskan hipotesis dan mengujinya. Pada akhirnya, dengan bimbingan guru siswa dapat membuat kesimpulan. Pembelajaran seperti ini menuntut siswa aktif dan guru hanya membantu secara minimal. Siswa belajar mengolah bahan melalui diskusi, tanya jawab, demonstrasi, survei lapangan, karya wisata, atau di perpustakaan.

Menyikapi teori pembelajaran di atas maka pembelajaran bahasa Indonesia sangat tepat kalau menggunakan teori tersebut. Pelaksanaannya, guru membutuhkan media pembelajaran. Media pembelajaran adalah perantara sumber pesan dengan penerima pesan yang berperan penting dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran juga merupakan wahana informasi yang bertujuan terjadinya proses belajar pada diri siswa sehingga akan terjadi perubahan perilaku, baik berupa kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), maupun psikomotor (keterampilan).

Selain itu, media pembelajaran memiliki fungsi tersendiri sebagai sarana bantu untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang lebih efektif. Hasil belajar siswa dengan menggunakan media diharapkan bertahan lama sehingga kualitas belajarnya baik, memiliki nilai yang tinggi. Media pembelajaran bukan sebagai alat bantu semata, tetapi harus bisa memberikan kontribusi yang berarti.

Melalui media pembelajaran, materi yang disampaikan oleh guru akan lebih jelas. Oleh karena itu, guru tak boleh mengabaikannya manakala media tersebut tidak ada.

Pada era globalisasi sekarang ini banyak tersebar berbagai media yang dapat menunjang pembelajaran di sekolah. Media siap pakai, canggih, dan modern mungkin sudah biasa digunakan di sekolah favorit. Bahkan, mungkin siswa-siswanya pun mampu membelinya. Tanpa media, mereka tidak bisa belajar secara maksimal. Apalagi sifat mereka yang serba ingin tahu terhadap hal-hal yang baru. Bagaimana dengan siswa-siswa yang berada di daerah terpencil? Mampukah mereka memiliki media modern? Padahal mereka juga sama, serba ingin tahu. Tugas gurulah yang menentukan media yang tepat sesuai dengan situasi tempat siswa belajar, walaupun media tersebut tidak modern. Yang penting media tersebut dapat mencapai tujuan pembelajaran.

Pembelajaran bahasa Indonesia tak lepas dari belajar membaca, menulis, menyimak, berbicara, dan sastra. Aktivitas membaca merupakan awal dari setiap pembelajaran bahasa. Dengan membaca, siswa dilatih mengingat, memahami isi bacaan, meneliti kata-kata istilah dan memaknainya. Selain itu, siswa juga akan menemukan informasi yang belum diketahuinya. Dari hasil membaca, siswa dilatih berbicara, bercerita dan mampu mengungkapkan pendapat juga membuat kesimpulan.

Bagaimana menciptakan situasi pembelajaran bahasa Indonesia agar lebih menarik? Media apa saja sebagai pendamping buku teks? Selain buku teks, ada media cetak lainnya yang dapat mendukung proses pembelajaran bahasa Indonesia, misalnya majalah atau surat kabar. Contoh dapat kita ambil dari surat kabar yang banyak memuat ilmu pengetahuan. Materi pembelajaran bahasa Indonesia akan semakin kaya dan sangat terdukung dengan kehadiran media cetak surat kabar.

Guru bahasa Indonesia harus dapat memotivasi siswa agar mau membaca surat kabar. Dengan membaca surat kabar, mereka mampu beropini, baik di kelas pada waktu belajar atau melalui majalah dinding (mading) yang ada di sekolahnya. Selanjutnya, siswa pun mampu beropini melalui media cetak. Saat ini media yang khusus untuk bacaan pelajar masih sangat sedikit, karena surat kabar terlalu didominasi media cetak hiburan.

Adakah motivasi siswa untuk membaca surat kabar? Masih perlukah mereka dengan ilmu pengetahuan? Dengan membaca surat kabar setiap hari, ilmu pengetahuan siswa akan bertambah. Tanpa disadari sebenarnya mereka juga sedang belajar bahasa Indonesia. Guru akan merasa bangga kalau memiliki siswa yang berani mengungkapkan pendapat dengan bahasa yang santun dan logis.

Sabtu, 09 April 2011

Berusaha Sehat meski Merokok

Memang tidak mudah menghilangkan atau menghentikan kebiasaan merokok. Namun, yang lebih susah adalah bagaimana tetap sehat dalam kondisi terpaksa harus merokok.

* Biasakan berolahraga atau memulai program/hobi dengan keluarga/teman-teman yang bukan perokok.

Buatlah acara ini secara teratur. Olahraga tidak hanya penting bagi mereka yang ingin hidup sehat, tetapi juga bagi perokok. Luangkan waktu kurang lebih 30 menit sehari untuk memberikan tubuh mendapat oksigen secukupnya. Jangan merokok selama berolahraga karena hal ini akan memupuskan segala manfaatnya.

* Jangan merokok sambil minum kopi.

Meski dipercaya dapat menambah kenikmatan, kandungan kafein dalam kopi dapat meningkatkan kadar karbon dioksida dalam paru-paru. Sebagai ganti, pilih minuman yang dapat menetralisasi racun yang dibawa oleh rokok, seperti jus buah segar atau susu.

* Ganti rokok dengan makanan ringan sebagai cuci mulut.

* Ganti kebiasaan merokok saat buang hajat

dengan membaca buku, komik, koran, atau tabloid. Kegiatan membaca jauh lebih bermanfaat untuk menambah ilmu maupun sekadar sebagai rileksasi.

* Cobalah berpikir sesaat sebelum menyalakan rokok,

tentang bagaimana hidup ini terasa lebih indah tanpa rokok.

* Kalau hingga kini Anda terpaksa harus merokok, cobalah untuk memikirkan kehidupan yang sebenarnya jauh lebih baik tanpa rokok.

Alasan yang selalu dikemukakan adalah rokok dapat mengurangi kecemasan, meningkatnya konsentrasi, memberi rasa lebih tenang dan lebih rileks. Kenyataannya, efek positif itu hanya terasa sesaat dan selanjutnya timbul ketergantungan yang akan berdampak luas. Cobalah mencari alternatif, seperti mendengarkan musik lewat earphone atau mengunyah permen karet. @


Senin, 28 Maret 2011

SMPN 13 MALANG



PPL IKIP BUDI UTOMO MALANG

Wahai Para Ortu, Waspadailah Anak-anak Kecanduan Internet

Orang tua harus mewaspadai kemungkinan anaknya yang kecanduan internet karena dapat berpengaruh terhadap perkembangan psikologi mereka, kata Ketua Pengurus Pusat Persaudaraan Muslimah (Salimah), Nani Handayani.

"Bila anak sudah kecanduan internet maka orang tua harus hati-hati menyikapinya," katanya di Magelang, Ahad. Ia mengatakan hal tersebut saat tablig akbar memperingati Hari Jadi Ke-1.105 Kota Magelang yang diselenggarakan PD Salimah Kota Magelang dengan tema "Menyelamatkan Keluarga dari Efek Negatif Dunia Maya".

Kecanduan internet, katanya, antara lain bisa menyebabkan anak malas, kurang konsentrasi belajar, dan tidak mau berdialog. Suatu riset, katanya, menunjukkan bahwa anak-anak kencanduan internet mencapai 76 persen. Mereka minimal membuka internet antara dua hingga tiga jam per hari.

"Namun banyak anak yang merasa tidak cukup membuka internet selama dua hingga tiga jam saja. Apalagi warnet buka 24 jam sudah menjamur di mana-mana sehingga anak-anak lebih mudah mengakses internet," katanya.

Ia mengemukakan, sudah saatnya ibu rumah tangga bisa menggunakan internet agar mereka bisa mengetahui aktivitas anak-anaknya saat berinternet. "Mustahil kalau anak sekarang tidak bisa membuka internet karena di sekolah juga diajarkan hal itu," katanya.

Ia mengatakan, sebagian besar anak memiliki akun jejaring sosial antara lain facebook dan twiter. Banyak hal, katanya, bisa diperoleh dari berbagai fitur tersebut antara lain berteman dengan siapa saja dan membuka bacaan apa saja termasuk gambar porno.

"Sulit bagi orang tua untuk membendung anak membuka situs porno," katanya. Ia mengatakan, di Indonesia terdapat sekitar 20 ribu situs porno yang mudah diakses. Upaya memblokir berbagai situs porno bukan hal mudah.

Selain itu, katanya, jangan memasang komputer di kamar pribadi masing-masing anak. "Lebih baik komputer diletakkan di ruang keluarga sehingga apa yang dibuka oleh anak, maka semua anggota keluarga akan mengetahui," katanya. Ia mengemukakan perlunya orang tua dengan anak-anak membuat kesepakatan menyangkut berapa lama anak boleh membuka internet.

SMS GRATIS SEMUA OPERATOR